Senin, 30 November 2009

Apa yg Harus Saya Lakukan...??

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, ia didatangi seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan wajahnya kusam. Keadaan tubuhnya tak karuan. Ia seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat menyusahkan hatinya. Begitu bertemu dengan si orang tua yang bijak, ia segera menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi.

Pak Tua yang bijak hanya mendengarkannya dengan seksama. Begitu tamunya selesai bertutur, ia lalu mengambil segenggam garam dan segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya,” ujar Pak Tua itu.

“Asin…., asin sekali,” jawab anak muda itu sambil meludah ke samping.
Pak Tua tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya berjalan-jalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan di hutan sekitar rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan. Setelah melakukan perjalanan cukup lama, akhirnya mereka tiba di tepi sebuah telaga yang tenang. Pak Tua itu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, ia mengaduk air telaga sehingga sebagian airnya terciprat membasahi wajah anak muda itu.
“Sekarang, coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!” ujar Pak Tua kemudian.

Anak muda itu menuruti apa yang diminta Pak Tua. Ia segera meminum beberapa teguk air telaga. Begitu tamunya selesai mereguk air, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”
“Segar!” sahut anak muda itu.
“Apakah engkau bisa merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.
“Tidak,” jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Lalu ia mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.
“Anak muda, dengarkanlah ucapanku. Pahitnya kehidupan yang engkau rasakan seperti segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu tergantung dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi ketika engkau merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa engkau lakukan untuk mengatasinya. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu kembali menambahkan nasihatnya, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Qalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. “
Keduanya beranjak meninggalkan tepian telaga. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan segenggam garam untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya untuk meminta nasihat.

(diambil dari Sabili No.24 Th.IX)

Minggu, 29 November 2009

Selembar Bulu Mata

Diceritakan di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang diadili. Ia dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. Tetapi ia berkeras membantah. "Tidak. Demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu.

"Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam dosa," jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia pun menyanggah, "Manakah saksi-saksi yang kau maksudkan? Di sini tidak ada siapa kecuali aku dan suaramu." "Inilah saksi-saksi itu," ujar malaikat. Tiba-tiba mata angkat bicara, "Saya yang memandangi." Disusul oleh telinga, "Saya yg mendengarkan." Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium." Bibir mengaku, "Saya yang merayu." Lidah menambah, "Saya yang mengisap." Tangan meneruskan, "Saya yang meraba dan meremas." Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari ketika ketahuan." "Nah kalau kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian tentang perbuatan aibmu itu, ucap malaikat.

Orang tersebut tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam jahanam. Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong terdengar suara yang amat lembut dari selembar bulu matanya: "Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi." "Silakan", kata malaikat. "Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yg lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, walaupun selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka

Maka saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan." Dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke syurga. Sampai terdengar suara bergaung kepada para penghuni syurga:

"Lihatlah, Hamba Tuhan ini masuk syurga karena pertolongan selembar bulu mata." (atas rahmat Allah) Sungguh Allah Maha Pemberi Karunia....

Seputar Permasalahan Yang Sering Terjadi Dalam Hidup

KENAPA AKU DIUJI?

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta"[Al-Ankabut: 2-3]

KENAPA AKU TAK DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?

”... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" [Al-Baqarah: 216]

KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya“ [Al-Baqarah: 286]

RASA FRUSTASI?

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” [Ali Imran: 139]

BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. “ [Al-Imran: 200]

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” [Al-Baqarah: 45]

APA YANG AKU DAPAT DARI SEMUA INI?

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah: 111]

KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?

"…Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung." [At-Taubah: 129]

AKU SUDAH TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!!!!

"… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." [Yusuf: 87]

Lihatlah! Orang Amerika itu masuk Islam karena senyuman!

Kejadian ini dituturkan oleh seorang praktisi dakwah yakni Syaikh Nabil al-Audhi, dalam sebuah seminar yang bertajuk ,"Kisah-Kisah dari Kejadian Nyata." Beliau berkata,"Salah seorang pendakwah menceritakan kisahnya, ia bertutur, 'saat berada di Amerika untuk memberikan ceramah dalam sebuah seminar. Di tengah-tengah acara berlangsung, tiba-tiba sesorang berdiri dan memutus perkataan saya. Dia berkata, 'Tuan, orang ini menyatakan dua kalimat syahadat', seraya berisyarat ke arah seorang warga Amerika yang duduk di sampingnya. Saya berucap spontan, "Allahuakbar."

Orang Amerika itu mendekati saya di hadapan sekian benyak hadirin. Aku bertanya kepada dia, "Apa yang menjadikan kamu mencintai Islam dan membuat kamu ingin memasukinya?!" Dia menjawab, 'Saya ini adalah seorang milyuner dengan harta berlimpah dan memiliki banyak perusahaan, akan tetapi selama ini saya tidak pernah merasa bahagia.

Saya mempunyai seorang karyawan yang berasal dari India dan beragama Islam. Karyawan saya itu mendapatkan gaji yang sedikit, tetapi setiap kali menjumpainya, saya selalu melihatnya teresenyum. Padahal saya yang memiliki harta yang berlimpah, selam ini tidak pernah tersenyum. Saya katakan kepada diri saya sendiri,"Mengapa aku yang punya harta berlimpah dan menguasai perusahaan ini tidakdapat tersenyum, sedangkan si orang fakir yang tak punya apa-apa ini malaha bisa tersenyum."

Suatu hari saya mendatanginya dan bertanya,'Aku ingin duduk satu majelis dengan kamu.' Kemudian, saya bertanya kepadanya tentang kebiasaannya yang senantiasa tersenyum. Dia menjawab pertanyaan saya dengan ucapannya,'Karena saya ini seorang muslim. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.'

Aku bertanya kepadanya,'Apakah itu berarti bahwa setiap muslim akan senantiasa tersenyum behagia sepanjang hari?' Dia menjawab,'Ya.' Aku bertanya, 'Bagaimana itu?!' Dia menjawab,' Kami mendengar sebuah hadits dari Nabi Muhammad...

"Sangat menakjubkan urusan orang mukmin itu. Sesungguhnya semua urusannya selalu berakibat baik baginya. Apabila dia mengalami kesusahan, dia bersabar, maka sikap itu menghasilkan kebaikan baginya. Apabila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka sikap itu pun membawa kebaikan baginya."

Hal yang kami temui setiap hari hanyalah berkisar di antara kesenangan dan kesusahan. ketika kesusahan menerpa, maka itulah saatnya bagi kami untuk bersabar karena Allah ta'ala.
Sedangkan taktala kesenangan menyapa, mak itulah saatnya bagi kami untuk bersyukur kepada Allah ta'ala. Sehingga seluruh kehidupan kami hanyalah bahagia dan bahagia."

Saya berkata kepada karyawan saya,'Aku ingin masuk ke dalam agama ini.'
Dia berkata, 'Bersaksilah bahwa tiada sesembahan kecuali Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah.'

Al-Audhi mengulangi cerita syaikh pendakwah itu, seraya berkata sesuai dengan yang diucapkan oleh syaikh itu, "Saya katakan kepada orang Amerika itu di hadapan orang banyak. Ucapkanlah dua kalimat syahadat. Kemudian, syeikh itu menuntun orang Amerika itu untuk mengucapkan syahadat, hingga akhirnya dia berkata dengan keras di hadapan hadirin, "Asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah."

Seketika itu orang Amerika itu menangis dengan keras dan tersedu-sedu di hadapan semua orang. Ada seseorang di anatara mereka yang membujuknya untuk berhenti menangis, tetapi syeikh itu mencegahnya seraya berkata, 'Biarkan ia menangis!' Ketika tangisan panjang orang Amerika itu sudah mulai reda, sang syeikh bertanya kepadanya, 'Apa yang menyebabkan kamu menangis?' Laki-laki dari Amerika itu menjawab, "Demi Allah, dadaku dimasuki kegembiraan yang belum pernah kurasakan sepanjang hidupku."

Kisah di atas memberikan sebuah pengertian bahwa senyuman mampu memengaruhi orang lain dan menembus hati mereka. Berapa banyak kejujuran muncul disebabkan oleh senyuman ekspresif dan tawa yang jujur. Dan yang paling menakjubkan adalah kekuatan syahadat yang dapat membasahai kalbu seseorang yang telah gersang karena tak ada siraman iman kepada Allah dan Rasulnya. Inilah ISLAM yang begitu indah. Agama yang sangat mengatur setiap segi kehidupan. Agama yang menenangkan jiwa yang hampa. Agama yang sangat mencintai keindahan. Agama yang mengatur dengan jelas antara Haq dan Bathil.. Subhanallah.. Proud to be a Muslim! ALLAHUAKBAR!!!

Menangislah, Karena Bidadari Itu Terlalu Mulia Untukku...

Hari ini ia sengaja datang ke kampus lebih pagi. Selain karena tak ingin terlambat di kuliah pertama, ia ada janji bertemu dengan Ustdz. Faridz di musholla kampus. Dia tegakkan dua rakaat shalat Tahiyatul Masjid, disusul dengan 4 rakaat shalat Dluha. Lalu dia tengadahkan tangan melantunkan doa.
Dia menyambung ibadah paginya dengan tilawah tartil sambil menunggu Ustdz. datang. Seorang kawan menghampirinya. Dia tutup tilawahnya setelah menyelesaikan satu pojok.

“Assalamualaikum Akh Ilham…” sapa sang kawan ramah.
“Waalikumussalam warahmatullah… apa kabar akhi?” jawabnya sambil tak lupa bertanya kabar.


“Alhamdulillah ana bikhoiir… antum sendiri gimana? Kabarnya udah siap nikah nih…” mata sang kawan mengerling menggodanya. Dia cuma tersenyum, tak berniat menanggapi gurauannya.
“Akh, di sini ada bidadari.”


Bidadari? Darahnya berdesir. Ah, bidadari, kesannya indah.

“Sini, ana tunjukkan orangnya. Ini akhwat luar biasa, anak kedokteran, prestasinya brilian, aktivis kampus, ketua pembinaan dan kaderisasi akhwat, akhlaknya mengagumkan, ibadahnya tak diragukan. Dia pembina adik ane. Cocok banget sama antum!” kawannya menjelaskan panjang lebar, membuatnya penasaran.

Lalu, telunjuknya mengarah ke sosok seorang akhwat. Tak lama, yang dibilang bidadari itu sudah terlihat jelas.

“Masya Allah… itu yang dibilang bidadari? Mana ada bidadari hitam legam? Yang kubaca dalam Ibnu Katsir, bidadari itu cantik sekali, kulitnya putih transparan seperti putih telur. Eh, mana ada di dunia yang begitu ya.. paling ga, kuning langsatlah. Masa black begitu. Black sweet sih masih banyak yang mau, ini aku belum lihat sweetnya.” Dia menggerutu dalam hati. Tak berminat meneruskan percakapan.

“Akh, ane ke perpustakaan dulu yaa.. bidadari itu, buat antum aja.” Dia berpamitan.
“lho… sama ane mah ga sekufu akh!”
“Ya udah, assalamualaikum.” Ilham beranjak meninggalkan kawannya. Baru beberapa langkah, seorang marbot memanggilnya. Dan menyerahkan amplop putih titipan dari Ustdz. Faridz. Ustdz tidak bisa datang, makanya amplop itu ia titipkan.

“Hmm… ini biodata akhwat yang dijanjikan Ustdz.” langkahnya mantap menuju perpustakaan, tempat paling aman untuk membuka dan membaca biodatanya.

Dia duduk di sana, mengatur nafasnya yang terengah, bukan karena capek, tapi sibuk menahan deburan dalam dada. Perlahan dia membuka amplop itu, sengaja ia tinggalkan selembar foto di dalamnya, dia akan melihatnya nanti.

“Bismillahirrahmaanirrahiim… “ dia kuatkan hati membaca susunan huruf demi huruf dalam biodata. “Akhwat luar biasa, usianya, dua tahun dibawahku, lumayan, lebih muda. Pendidikan, kedokteran umum XX (sedang koas), Alhamdulillah… ayah dan ummi pasti senang sekali. Sepertinya pas untukku.” Gumannya bahagia. Dia berbunga-bunga. Lalu, diambilnya selembar foto di dalam amplop, ah… sebentar, biar kutenangkan diri… Bismillah…

Ah… kenapa akhwat ini?? Keluhnya. Bunga-bunga yang tadi bermekaran luruh satu persatu, beterbangan diterpa angin. Lunglai tubuhnya seolah tak bertenaga. Sesak memenuhi rongga dada.

Kenapa akhwat ini yang disodorkan padaku? Dia kembali mengeluh. Terbayang kembali akhwat berkulit legam dan sama sekali tidak cantik menurut ukurannya. “Semoga ia bukan jodohku..” doanya lancang. Ustadz… masa sih nyariin aku kayak gini? Kalau kayak gini sih.. aku juga bisa nyari sendiri. Congkak mulai merasuk.

Dikeluarkannya selembar foto. Foto diri yang sangat dibanggakan. Dia menatap mata elang yang mengagumkan. Hidung yang mancung, bentuk muka yang menawan. “Apakah salah jika aku menginginkan akhwat sholihah yang cantik?” Dia mendesah resah.


Dia Memang Bidadari

Ilham berusaha menyerahkan semua keputusan pada Allah. Ia akan berikhtiar dengan wajar dan berdoa dengan kesungguhan. Walau ia belum punya kemantapan namun ia akan mengosongkan perasaan buruk di hatinya. Ia akan berangkat dengan perasaan netral. Ia ingin semua langkah dimulai dengan kebersihan hati, kelurusan niat, ketergantungan yang besar pada Allah, dan kesungguhan ikhtiar. Ia tak ingin mengedepankan nafsu apalagi diiringi segala penyakit yang mengusamkan kalbu.

Taaruf yang ia jalani, bersama ukhti Dede -----nama akhwat yang disodorkan Ustdz. Faridz----- sangat wajar dan biasa saja. Ia didampingi Ustdz. Faridz, sedangkan Dede didampingi istri beliau. Komunikasi berjalan dengan baik, penyatuan persepsi lancar, pengungkapan kondisi keluarga dan latar belakangnya juga lancar.

Ilham merasakan ada yang menarik hatinya. Wajah berkulit hitam itu memendarkan cahaya. Benar kata adiknya, jika berbicara sedap dipandang dan didengar. Inilah relativitas kecantikan, meski ada kecantikan yang diakui semua orang.

Ilham sempat deg-degan dan merasa was-was ikhtiarnya akan gagal ketika orangtua Dede mengujinya.

“Abah sudah dengar tentang kebaikan akhlak dan aktivitasmu. Sekarang Abah ingin mendengar langsung bacaan Quranmu. Abah tak akan menyerahkan putri Abah pada seseorang yang tidak bagus bacaan Qurannya.” Begitulah ujiannya. Alhamdulillah semua lancar dan ia diterima meski banyak catatan.

Hingga tibalah waktu yang dinanti. Hari ini seharusnya Ilham dan keluarganya datang untuk mengkhitbah Dede. Hari ini seharusnya rombongan berangkat dengan wajah berseri. Namun, Allah membuat rencana yang sangat berbeda. Ilham yang semalam penuh diliputi senyum simpul, kini banyak menunduk dan beristighfar.

Sungguh siapa sangka, lamaran kali ini gagal. Dede, sang aktivis dakwah yang telah menjual diri dan jiwanya untuk berjihad fii sabiilillah, pulang ke rumah orang tuanya, bukan untuk dilamar, melainkan untuk dimakamkan.

Takdir Allah terjadi atasnya. Selama ini ia giat berdakwah di sebuah desa tertinggal. Desa yang dahulu nyaris kehilangan keislamannya, bergairah kembali dengan pembinaan rutin dari Dede dan kawan-kawannya. Rupanya, hal itu tidak disenangi oleh misionaris yang selama ini hampir berhasil memurtadkan penduduk desa itu.

Dia dibunuh, dalam perjalanannya sepulang dari baksos di desa itu. Dan ia dibunuh, karena mempertahankan akidahnya. Karena mereka tidak berhasil memaksanya untuk menukar keyakinannya dan meninggalkan aktivitas dakwahnya.

Ilham tercenung menatap tanah merah basah di pekuburan itu. Di dalamnya bersemayam jasad sang mujahidah. Bidadari yang hendak disuntingnya. Semilir angin menghembuskan wangi kesturi, wangi para syuhada.

Dalam desahnya ia bergumam,
“Kau ternyata wanita agung. Kau lebih mulia daripada bidadari. Seorang Ilham tak diizinkan Allah untuk sekedar mengkhitbahmu, apalagi memilikimu. Maafkan aku, yang dulu sempat sombong terhadapmu.” Wajahnya tertunduk dalam.

“Subhanallah… aku tak mengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi untuk menegurku dari segala kesombongan.” Gumamnya penuh penyesalan.

didedikasikan untuk my beloved papa..

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.



Lalu bagaimana dengan Papa?



Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,

tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?



Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,

tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?



Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......



Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.

Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,

Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.



Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?



Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.

Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.



Ketika kamu sudah beranjak remaja....



Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?

Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..



Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...

Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,

Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?



Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?



Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...

Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...

Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?

"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"



Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa



Ketika kamu menjadi gadis dewasa....



Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...

Papa harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?

Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.

Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.



Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.

Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.



Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?



Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"



Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.

Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Papa tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.



Dan akhirnya....

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....

Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....

Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....

Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."



Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....

Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Papa telah menyelesaikan tugasnya....



Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...

Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...

Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

yang masih punya papa sayangi papa,dan berjuang untuk terus membahagiakan beliau.amin

Tangisan sebagai tanda kelemahan?

"kata ayah slalu, airmata itu adalah tanda kelemahan"
potongan lirik lagu the lucky laki tersebut sangatlah benar,
jikaaa kita merasakan bahwa kita adalah hambaNya yang sangat lemah.
Tak ada tempat bergantung, memohon, mengadu dan berharap selain padaNya..

Tapi, airmata kita ini seringkali keluar jika menghadapi berbagai cobaan. Bukankah musibah2 yang Alloh berikan itu adalah nikmat? Dengan diberikannya kita berbagai cobaan, maka Alloh akan menghapus dosa2 kita. Lalu mengapa kita menangis dan mengeluh?? Ya itu karena kita masih kurang memahami akan hal ini.. Bahwa Alloh sangat mencintai kita..

Disamping itu, seseorang juga paling mudah mengeluarkan airmata jika "disakiti" oleh kekasihnya. Coba kita lihat, di mana2 airmata dengan mudahnya mengalir membasahi pipi, menghabiskan tissue cuma hanya karena merasa kecewa dengan sang kekasih. Apa yang telah sang kekasih itu berikan?? Apakah dia yang memberikan kamu mata hingga bisa melihat, telinga untuk mendengar, serta nikmat2 lainnya?? Kenapa harus merasa sedih dan kecewa ditinggal olehnya? Apa dia yang akan menjagamu setiap saat?

Sungguh malang orang yang berpikiran kritis seperti itu. Lalu apakah dia juga ingin mengingkari nikmat2 Alloh yang lain??
Al-Qurthubi berkata: cucuran air mata tergantung apa yang seorang hamba rasakan. Jika timbul karena rasa tunduk kepada keperkasaan Allah maka hal itu menjadi tangis karena takut kepada-Nya, dan jika timbul karena mengagumi dan mengharapkan keindahan-Nya maka hal ini karena rindu kepada-Nya.

Lalu, apakah hati kita tak tersentuh dan merasa takut saat mendengarkan ayat2 suci Al-Quran, yg tak ada sama skali keraguan dalamnya?? Saat membaca atau mendengar cerita2 tentang hari kiamat dan adzabNya?

Allah memuji orang yang menangis karena takut siksa-Nya dengan menjamin keamanan baginya. Mereka tersungkur dan bersujud seraya mencucurkan air mata karena perasaan tunduk dan patuh kepada Allah. Mereka mendengar ayat dengan sikap mengagungkan sehingga memberi pengaruh dalam jiwanya berupa iman, harapan, rasa takut, yang kesemuanya mengharuskan menangis serta memohon ampun kepada Robb semesta alam.

Adz-Dzahabi berkata: “Fatah al-Maushili adalah orang yang banyak menangis karena takut kepada Allah. Dia pernah melihat asap dan jilatan api berkobar di kegelapan malam, lalu ia pun pingsan. Setelah sadar ia berkata: “aku teringat seakan-akan asap neraka jahannam datang menjemputku”.

Berprasangka Buruk Dan Mencari Kesalahan Orang Lain = Membuka Aib Sendiri

Sebagai manusia pada umumnya, pasti mempunyai kesalahan dan juga memiliki aib yang harus ditutup tutupi, namun kebanyakan diantara manusia itu sendiri banyak sekali yang selalu memperguncingkan bahkan mengolok-olokan aib dari orang lain, padahal apa yang mereka perbincangkan tidak lebih buruk dari aibnya sendiri. Dan apabila seseorang dari kalian sangat suka sekali dengan membukakan aib orang lain, maka disamping Allah swt akan membukakan aibnya sendiri, juga siksa yang teramat pedih akan ditimpakan pada mereka di dunia dan akhirat nanti.

Allah berfirman di dalam al-Qur’an surah Al-Hujuraat: 12,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai? Maka, tentulah kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mencari-cari keburukan saudaranya maka Allah pasti mencari-cari kesalahannya dan barangsiapa yang mencari-cari keburukan saudaranya nescaya Allah akan membuka keaibannya sekalipun -keaiban itu- di dalam rumahnya sendiri.” (Hadits riwayat: at-Tirmidhi dan Ibnu Hibban)

Dan peringatan Allah SWT di dalam al-Qur’an itu adalah :
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (Surah an-Nuur: 19)

Na'uzubillah!

Berburuk sangka (su’uzhan) pada orang lain akan membuat hati kita capek dan busuk. Begitu juga akan dapat memengaruhi cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil suatu keputusan. Selain merusak hati, su’uzhan juga akan melenyapkan kebahagiaan, merusak akhlaq dan akan menodai kedudukan kita di sisi Allah.

Jika kita sadar bahwa su’uzhan itu buruk akibatnya, maka mengapa kita tidak berbaik sangka (husnuzhan) saja kepada orang lain?

Malu Dong Sama Laba-laba


Pada suatu sore, tampak seorang pemuda tengah berada di sebuah taman umum. Dari raut wajahnya terlihat kesedihan, kekecewaan, dan rasa frustasi. Dia terlihat berjalan dengan kepala tertunduk lesu.
Sebentar-sebentar ia duduk dan menghela nafas panjang.
Kegiatannya itu dilakukannya berkali-kali, seakan dia tidak tau apa yang hendak dilakukannya.

Saat pikirannya sedang menerawang entah kemana, tiba-tiba pandangannya terpaku pada gerakan seekor laba-laba yang sedang membuat sarangnya di ranting pohon tempat ia duduk.
Dengan perasaan kesal, ia pun kemudian iseng mengambil sebatang ranting dan merusak sarang tersebut tanpa rasa ampun.
Seusai melepaskan kekesalannya, perhatian pemuda itu teralih sementara untuk mengamati kira-kira apa yang akan dikerjakan laba-laba setelah sarangnya hancur oleh tangan isengnya.
Apakah laba laba trsebuat kan lari terbirit-birit atau dia akan membuat kembali sarangnya di tempat lain.
Rasa penasaran itu rupanya segera mendapat jawaban.
Tak lama, si laba laba tampak mulai kembali ke tempatnya semula.
Laba-Laba itu mulai mengulangi kegiatan yang sama, merayap, merajut dan melompat.
Setiap helai benang dipintalnya dari awal, semakin lama semakin lebar dan tanpa kenal lelah.

Setelah menyaksikan usaha si laba-laba yang sibuk bekerja lagi dengan semangat penuh untuk memperbaiki dan membuat sarang baru, kembali si pemuda beraksi dengan tujuan menghancurkan sarang tersebut untuk yang kadua kalinya.
Dengan perasaan puas namun penuh rasa ingin tahu, diamati ulah si laba-laba. Apa gerangan yang akan dilakukannya setelah sarangnya dirusak untuk yang kedua kalinya.

Ternyata, untuk ketiga kalinya, laba-laba itu mengulangi kegiatannya, kembali memulai dari awal.
Dengan bersemangat merayap, merajut dan melompat dengan setiap helai benang yang dihasilkan dari tubuhnya.
Laba-laba itu memintal kembali sarangnya sedikit demi sedikit.

Setelah melihat dan mengamati ulah laba-laba tersebut dalam membangun sarang yang telah hancur untuk ke tiga kalinya, saat itu juga si pemuda tersadarkan.
Tidak peduli beapa kali sarang nya dirusak dan dihancurkan, sebanyak itu pula laba-laba itu membangun sarangnya kembali.
Semangat binatang yang begitu kecil dengan giat bekerja tanpa mengenal lelah telah membuka mata si pemuda.

Hal itu menimbulkan perasaan malu dirinya karena dia baru saja mengalami satu kali kegagalan lalu sudah menyerah dan putus asa.
lalu sang pemuda pun berjanji dalam hati untuk berjuang dengan lebih lagi dan siap menghadapi kegagalan yang menghadang.
Segera si pemuda bangkit dan bertekad kuat untuk bekerja lebih giat lagi tanpa putus asa.

Mengalami kegagalan bukan berarti kita harus menyerah apalagi putus asa. Sebab sebenarnya dengan kegagalan itu berarti kita bisa instopeksi diri dan mengevaluasi setiap kesalahan yang telah kita perbuatan agar tidak terulang lagi di kemudian hari nanti agar menjadi lebih baik

sumber : 18 wisdom & success AW